Selasa, 04 Februari 2014

Belajar dari Bola, Welcome Piala Dunia 2014

piala dunia 2014BOLA telah menyatukan umat manusia. Dari segala penjuru mata memandang bola. Semua berkumpul tanpa batasan etnis, bangsa, agama dalam sebuah panggung pertunjukan merebut gengsi dan prestasi.

Bangsa kita juga bangsa demam bola. Dari kampung hingga kota. Bola begitu dicintai tanpa memandang suku dan ras si pemain bola. Di sinilah kisah cinta sejati umat manusia terjadi. Walaupun tim kita tidak berlaga, tapi toh kita bebas memihak dan memilih siapa. Dan inilah keindahan permainan bola.

Karena bola pula mungkin kesedihan kita sebagai bangsa yang dirundung berbagai bencana ini lenyap sejenak. Di tenda-tenda pengungsian setidaknya masih bisa disaksikan pertandingan bola bersama-sama. Bersorak-sorai bersama. Dengan bola, ada kesedihan dan kesengsaraan yang bisa dilampiaskan. Kesedihan akibat bencana alam, krisis ekonomi sampai perdebatan politik sedikit banyak tersihir oleh riuh rendah bola.

Yang menarik, di balik pesta akbar ini adalah bagaimana umat manusia yang disatukan dan bersatu padu menyaksikan kompetisi yang adil dan fair. Tidak ada kecurangan yang dipaksakan sebagaimana dalam panggung politik. Semua serba transparan dan dipertanggungjawabkan. Yang berprestasi menuai pujian, yang tersingkir tetap dielu-elukan.

Dengan bola, telah kita saksikan sebuah dunia tanpa batasan apapun. Tidak ada negara maju-negara miskin, tidak ada pembatas ras, suku maupun agama, juga struktur politik. Bola menyingkirikan batasan-batasan absurd manusia. Kepiawaian mengalahkan lawan dilakukan secara terhormat tanpa tipu muslihat.

Di sinilah semua panggung aktivitas kemanusiaan ini harus belajar kepada permainan sepak bola. Permainan politik pun bisa mengambil intisari dari permainan bola yang mengalahkan lawan tanpa harus melakukan melukai.

Dalam bola juga ditumbuhkan panggilan untuk mencintai di tengah eksploitasi dan kerakusan negara maju menguasai sumberdaya alam negara berkembang. Panggilan untuk mencintai sesama, menghargai lawan, meraih prestasi dan mencapai gengsi –semuanya dilakukan dalam suasana yang terang dan fairness.

Milyaran orang di dunia ini menganggap sepak bola sebagai bagian terpenting dalam kehidupannya. Pada saat pembukaan piala dunia, 5 milyar orang berkumpul di depan TV untuk menyaksikan perhelatan yang menarik dan melegakan bagi semua. Mereka berkumpul dalam kedamaian yang sama tanpa menghiraukan hirarki status sosial dan politik. Presiden sampai tukang becak, orang kaya dan orang miskin, wong gedhe dan wong cilik menyaksikan tontonan yang sama, dan memiliki kecintaan yang sama dengan bola.

Ini pula yang membedakan mengapa perhelatan politik di negeri kita tidak menarik. Sebab di dalamnya tidak berisi kebertanggungjawaban, kejujuran serta selalu berakhir tidak melegakan. Selalu ada yang dinistakan dan dilukai. Bahkan jika perlu kekerasan juga dianggap sebagai cara yang standar untuk mewujudkan keinginan. Politik di negeri kita terlalu kotor untuk disaksikan dengan senang hati dan tepuk riuh.

Dalam dunia bola di negeri kita, jutaan orang bersedia mengorbankan waktu tidurnya, melek khusus untuk menyaksikan bola. Ini semua dilakukan tanpa pamrih, tanpa ada imbalan khusus. Segala waktu dan tenaga dipersembahkan bagi ’dewa bola’. Ada kejujuran sikap untuk memilih, bahwa pertandingan yang dilakukan secara fairness adalah pertandingan yang memikat. Kalah dan menang merupakan urusan nomor sekian. Andaikata politik kita dijalankan dengan cara seperti itu, tentulah panggung politik kita merupakan perhelatan yang menarik pula.

Begadang untuk menantikan pertandingan bola bagaikan ingin mempersembahkan sesuatu kepada para dewa bola. Marilah kita bedakan dengan orang yang begadang semalam suntuk untuk memberikan persembahan dan pengorbanan, dengan berdoa jungkir balik kepada Tuhan. Pastilah mereka ada maunya, ada yang ingin kekayaan, jabatan dan lainnya. Ada pamrih yang sering menghilangkan ketulusan dalam berkeyakinan.

Bisakah Anda berdoa selama sepuluh menit penuh dengan mengonsentrasikan seluruh pikiran, emosi maupun perhatian untuk Tuhan yang Anda sembah? Janganlah sepuluh menit, semenit saja susah minta ampun. Tetapi untuk bola, kita mampu memusatkan seluruh perhatian, pikiran, otak, batin maupun emosi kita selama sembilan puluh menit penuh. Sampai seluruh emosi kita terkuras habis. Pada saat menonton bola kita bisa menangis, tertawa, gemetaran sampai keluar keringat dingin bahkan marah sampai mengeluarkan berbagai macam umpatan. Hal ini hampir tidak mungkin pernah bisa lakukan saat Anda berdoa.

Banyak umat agama yang kalah jauh fanatiknya jika dibandingkan dengan umat pemuja bola. Setiap minggu mereka jarang absen pergi ke ”rumah ibadahnya” yang berada di stadion. Kalau perlu bersedia untuk pergi berziarah ke stadion lainnya di luar kota atau luar negeri. Di ”rumah ibadah” mereka juga mempunyai kidung pujian untuk melakukan pemujaan. Misalnya ada yang menyanyikan ”You’ll never walk alone!”, sebagaimana ’diplesetkan’ dari sebuah lagu gereja.

Sepak bola telah menjadi perlambang kemanusiaan. Perlambang tindak tanduk manusia, dan yang mengingatkan bahwa kemenangan yang berwibawa selalu dicapai melalui cara bermain yang bersih dan bertanggungjawab.

Mengapa politik kita tidak mau belajar dari bola?

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon